Riel13’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PERAYAAN 17 AGUSTUS

Tidak lama lagi bangsa kita akan merayakan Hari Proklamasi 17 Agustus yang ke 57 kalinya. Di tengah-tengah kesibukan kehidupan sehari-hari yang penuh hiruk-pikuk tentang persoalan politik, ekonomi, sosial, agama dan moral, banyak di antara bangsa kita yang sudah lupa akan arti penting hari besar nasional kita ini. Banyak pula di antara rakyat kita, yang karena beratnya himpitan kehidupan sehari-hari, maka terpaksalah hanya ikut merayakannya secara rutine saja, atau, bahkan, tidak bisa ikut merayakannya sama sekali. Atau, bahkan banyak yang tidak peduli lagi akan arti penting perayaan hari besar nasional kita ini. Sungguh, suatu hal yang menyedihkan, yang patut menjadi renungan hati nurani kita semuanya. Dan, lagi pula, renungan yang sedalam-dalamnya.

Sebab, kiranya tidaklah dapat disangkal lagi, bahwa sejak Orde Baru ditancapkan di negeri kita oleh regim militer Suharto dkk, maka – pada hakekatnya – arti perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus sudah mengalami distorsi besar-besaran, atau pengebirian yang tidak tanggung_tanggung. Kalau ditelaah dalam-dalam, maka nayatalah bahwa sejak Orde Baru di dibangun oleh regim militer (artinya : Golkar ditambah ABRI beserta para pendukung-pendukungnya) maka terjadi pemandulan yang melumpuhkan semangat perjuangan revolusioner bangsa kita. Sejak itu, perayaan 17 Agustus sudah kehilangan ciri-ciri aslinya yang sejak tahun 1945 sampai 1965 telah menjadikannya sebagai sumber semangat perjuangan revolusioner bagi rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Memang, selama pemerintahan Orde Baru, Hari Proklamasi 17 Agustus juga selalu dirayakan setiap tahun. Upacara penaikan bendera pusaka diselenggarakan dengan khidmat, pidato-pidato para pejabat – yang isinya kebanyakan berupa pemamahbiakan jargon-jargon politik yang kosong atau palsu – diperdengarkan di kalangan pemerintahan pusat maupun daerah-daerah. Resepsi dengan pakaian seragam Golkar atau Korpri diadakan dengan meriah di setiap gubernuran, kabupaten dan kecamatan, lengkap dengan kehadiran ibu-ibu dari Dharma Wanita dengan pakaian dan hiasan yang mewah-mewah. Segala macam acara dan panitia telah disusun, dengan anggaran-anggaran yang digelembungkan. Rakyat di desa-desa juga digiring (dikerahkan) untuk berpesta-pora dengan beraneka-ragam upacara dan acara, dari memanjat pohon jambe, lomba lari dengan karung, atau meramaikannya dengan bunyi mercon dan kembang api.dan suara dangdut. Tetapi, apa saja yang berdiri di belakang itu semua?

Agustus 15, 2008 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: